Ilma Hidayati Purnomo

Beli Mobil Penuh Drama

Sekitar akhir tahun lalu, Pak Suami lagi getol browsing mobil baru. Mobil lama kami emang kondisinya ... agak-agak gimana gitu. Ada fender yang copot (dan hilang), gak ada air-bag penumpang, dashboard-nya aja masih bolong karena kami pernah mengalami major accident

Sebagai daily driver, menurutku mobil ini masih sangat layak pakai. Jangan bandingin sama kondisi angkot di Bandung yang lantainya bolong, deh. Dari luar, mobil kami masih tampak mulus. Masalahnya, kalau pak suami udah mulai browsing suatu barang, cepat atau lambat pasti kebeli! Tinggal nunggu waktu ketemu barang yang "klik" aja.

Proses Milih Mobil

Menimbang kondisi tempat tinggal kami yang "mendaki gunung lewati lembah", mobil bensin terasa tidak efisien. Kami mulai mempertimbangkan beli mobil listrik. Pilihan gampangnya, Tesla. Tapi aku gak suka Tesla! Masa kayak nyetir komputer?

Maksudku, di dalem mobil cuma ada kursi, setir, dan sebuah monitor buat mengontrol semuanya. Padahal, aku suka tombol fisik. Aku juga enjoy sama driving experience yang terasa mekanikalnya. Aku lebih seneng porsneling manual daripada otomatis, handling yang terasa aktual (gak ada delay pas setirnya dibelokin), pedal gas dan rem yang responnya cepat, terus suspensi mobilnya gak terlalu empuk apalagi sampai mentul-mentul. Jadi, kalau melewati jalan berlobang, aku masih bisa merasakan rodanya masuk ke dalam lobang, tapi tidak terasa keras. Pokoknya, peredamannya gak boleh sampai menimbulkan ripple. Bikin kepala pusing!

Buat Pak Suami, mobil yang akan dibeli harus efisien: harga sesuai dengan value, juga perawatannya gak ngabis-ngabisin uang, tenaga, dan waktu. Oh, dia lebih pinter milih warna dan bentuk interior serta eksteriornya. Pokoknya yang spark joy! ✨✨Yaitu, mobil yang setiap kami melihatnya, semakin bertambah rasa senangnya!

Mon maap, Tesla itu gak spark joy, meskipun dia punya Full Self Driving :p

Akhirnya, pilihan kami mulai mengerucut ke BMW iX, Cadillac Lyriq, Audi E-tron, Mercedes EQS SUV, dan (Pak Suami kekeuh dengan) Tesla Model X.


Test Drive Pertama

Hasil browsing kami jatuh pada pilihan BMW iX 2022 yang ada di dealer bernama Landmark Motor, sekitar 15 menit dari apartemen. Minggu, 19 Januari 2025, kami datangi tempat ini. Begitu sampai di parkiran, kami langsung mendekati mobil incaran kami yang terparkir tak jauh dari mobil kami. 

Belum lama kami melihat-lihat mobil, seorang sales menghampiri kami. Uniknya, sales ini langsung mengambil kuncil mobil dan memberikannya ke kami supaya kami bisa melihat bagian dalam mobil! Waduh, kalau kami bawa kabur aja mobilnya gimana? Hahaha.

Kami minta buat test drive. Syaratnya, kami harus menunjukkan SIM dan asuransi mobil (dalam kondisi aktif). Setelah tanda tangan form-nya, kami bebas mengendarai mobil itu selama 30 menit. Sales dealer itu bahkan tidak ikut di dalam mobil selama kami test drive!

Waktu pertama liat mobil ini, hatiku udah kecantol. Body-nya berwarna merah agak tua sedangkan kursinya berwarna coklat. Masuk ke dalam kabin mobil ini terasa mevvah! Ditambah lagi dengan kehadiran crystal glass control di center console, hmm, belum pernah aku merasakan perasaan ini. 

Mungkin inilah perasaan ketika menyentuh barang mewah seperti tas Luis Vuitton. Ada perasaaan bangga, perasaan senang yang sukses bikin senyum-senyum seharian, juga perasaan hati-hati supaya barang ini terjaga terus.

Butuh waktu satu menit bagiku untuk memahami bagaimana cara menyalakan mobil ini bahkan bagaimana cara membuka pintunya. Pasalnya, tidak ada tuas untuk membuka pintu!
Saat kaki pertama kali menginjak pedal gas, wow! Pedalnya empuk, tapi responnya cepat! Mobil langsung bergerak maju dengan cepat tetapi tidak menghentak. Ketika tanganku mulai memutar setirnya, wiih! Setirnya terasa berat. Aku belokkan sedikit setirnya, rodanya langsung membelok. Inilah yang disebut handling yang enakeun. Saat mengerem pun, terasa empuk. Mobil memelan cepat tapi tidak membuat badan penumpang terhuyung ke depan.

Kata Pak Suami, mobil Mazda yang kami punya sebenarnya memiliki handling paling bagus di kelasnya. Aku setuju. Beberapa mobil Jepang yang pernah kukendarai dulu, banyak yang setirnya kelewat ringan. Juga, pedal gas dan remnya yang harus aku injak dalam-dalam baru terasa efeknya.

Selama mencoba mobil ini di jalan kota dan highway, aku hanya punya satu masalah. Kabin mobil ini terlalu kedap. Memang bagus, aku tidak mendengar road noise sama sekali. Ibaratnya, aku lagi pakai headset dengan noise cancelling yang settingannya terlalu tinggi. Perbedaan suara yang jauh antara di luar mobil dengan di dalam mobil ditranslasi otakku sebagai perbedaan tekanan udara. Mengendarai mobil ini 15 menit saja sudah membuatku pusing.

Sekembalinya kami ke dealer mobil, kami diminta duduk dan berbincang dengan manajer sales. Kami diberi sejumlah kertas berisi "fact sheet" dan history mobil ini. Base price-nya (harga jual bersih, belum termasuk pajak dan pengurusan dokumen kepemilikian) hampir lima puluh ribu dolar. 

Setelah skimming seluruh fitur mobil ini di atas kertas, suami tanya, "Ada line keep assist-nya?"

"Ga ada." kata manajernya. 

Lah... 😞

Aku liat wajah suami tampak kecewa. Saat itu, aku belum paham. Kenapa line keep assist begitu penting? Memangnya kapan kami bakal pakai mobil ini buat road trip jauh? 

Argumenku, mobil ini sudah sesuai kriteria. Mobil listrik dengan perkiraan kapasitas baterai sampai 320 miles. Secara penampilan, sudah spark joy.

Waktu test drive, Pak Suami bilang komponen-komponen mesin mobil BMW cepat rusak. Nah, mobil ini kan mobil listrik. Tidak ada mesinnya. Berarti sudah mantap dong, ya? Ya, ya, ya? Sayangnya, masih terasa ada yang mengganjal di hati.
Pedih juga, saat sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi terhalang restu orang tua Pak Suami. Lagipula, tidak mungkin juga lah mencoba mobil satu saje langsung dibeli. Oleh karena itu, kami pergi ke dealer Cadillac yang berlokasi tak jauh dari dealer mobil tadi.

Waktu sampai di dealer Cadillac, kami disambut seorang sales laki-laki African-American. Dia menyapa kami dengan mengucapkan Assalamu'alaikum. Masya Allah, sesama muslim.

Kami utarakan maksud kami untuk melihat mobil Cadillac Lyric yang second. Dia bilang, hanya tersedia mobil tahun lalu yang belum kejual. Lalu, sales itu pergi ke kantornya untuk ambil kunci, keluar menuju parkiran, dan memarkirkan mobil yang dimaksud di hadapan kami.

Setelah mengurus perizinan buat test drive, kami masuk ke mobil. Kali ini sales itu ikut naik mobil di jok belakang. Dia juga yang menunjukkan jalannya, harus belok ke mana. Alhasil, kami tidak bisa masuk highway. Meskipun begitu, pengalaman test drive ini buatku cukup, kok. Cukup untuk menyimpulkan aku tidak suka mobil ini wkwkwk.

Setirnya terasa ringan, dibutuhkan lebih banyak putaran setir barulah roda mobil berbelok. Pedal gas dan remnya tidak responsif (lemot, perlu diinjek lebih lama dan lebih dalam baru terasa efeknya). No, thanks! Interiornya juga terasa biasa saja. Minimalis, memang. Atau "minimal banget" malahan 😝
Kembali ke dealer, sales tadi meminta kami masuk ke kantor manajernya. Baru saja kami duduk di kursi yang berhadapan dengan manajer berwajah bule ini, kami langsung dicecar pertanyaan, "Jadi kamu suka mobilnya, kan? Kapan belinya? Gimana caranya biar lu ada bisnis sama gue?"

Luar biasa maksa.

Berbeda sekali dengan sales dan manajer di dealer sebelumnya. Mereka tidak menyampaikan komentar/pertanyaan yang "mendorong" sama sekali. Mereka hanya memberikan info, menjawab pertanyaan kami, dan tampak santai menghadapi customer yang nyoba-nyoba doang. Mungkin karena mereka hanya jual mobil second. Jadi lebih santai, tidak dikejar target harus jual sekian unit.

Sebelum pulang, kami sempatkan mampir ke dealer Tesla. Waktu kami masuk ke dalam dealer, situasinya mirip kantor servis ponsel. Gedungnya tampak kecil, hanya ada front desk mini dan work space orang-orang di depan komputer, serta tiga mobil Tesla yang dipajang. Hari itu kami tidak bisa test drive entah alasannya apa. Setelah puas liat-liat mobil pajangan, kami pulang.


Akhir dari Hari Pertama

Satu pertanyaan yang menggangguku. Kalau di Tesla kita bisa tambahin fitur Full Self Driving (FSD) dengan subscription, masa di BMW tidak bisa?

Alhasil, kami pergi ke dealer BMW. Berbeda dengan dealer tesla, dealer BMW tampak sangat megah. Gedungnya luas dan tinggi. Banyak mobil yang dipajang. Anehnya, waktu kami masuk ke dalam gedung, tidak ada sales yang menyapa kami. Hei, kami calon pemilik BMW, lho!

Kami menuju front desk yang lokasinya agak di bagian samping gedung. Ada sejumlah sales yang lagi ngobrol-ngobrol santai. Kami tanya soal line keep assist ini. Salah satu sales itu bilang kalau sepertinya fitur itu tidak bisa ditambahkan setelah mobilnya "jadi". Kami bisa coba tanya hotline number BMW genius, untuk cross check.

Pulang ke rumah, aku dan suami diskusi lagi. Kita coba tanya pendapat orang tua juga. Papaku bilang, kalau di Indonesia, Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) pasti ada di setiap mobil. Di dalam ADAS pasti ada line keep assist-nya.

Melihat istrinya yang terlalu kekeuh sama BMW iX ini, sebetulnya pak suami sudah menyisihkan uang untuk DP. Namun, dia mengajak aku berpikir lebih jauh. Kami coba pahami lagi, kok bisa gak ada line keep assist-nya padahal fitur itu DITAWARKAN oleh BMW?

Kami coba pahami lagi alur orang beli mobil baru. Mereka bisa memilih warna interior, eskterior, dan beberapa package (fitur) yang bisa ditambahkan. Lah ternyata, "si orang" yang sudah melepas BMW iX 2022 yang pingin aku beli ini, menambahkan fitur-fitur estetik tapi TIDAK menambahkan fitur untuk Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).

Pingin menghujat rasanya. Karena setelah aku tanya ke hotline number BMW genius pun dijelaskan kalau fitur ini memerlukan tambahan hardware. Jadi, bukan model menambahkan subscription software doang. 

Lebih pingin marahnya lagi, harga mobil itu waktu masih baru sekitar $98,000. Untuk menambahkan fitur ADAS, hanya diperlukan tambahan sekitar $2,000. Hanya 2% harga mobil!

Ibaratnya, ini mobil yang bagus, tapi mobil ini tidak bisa "jaga diri". Tidak ada "usaha" dari mobil untuk tidak keluar jalur. Ya bebas aja, kalau mobilnya mau nyenggol waktu supirnya lagi tidak fokus.

Gemas. Hanya menambah dua ribu, aja gak ditambahin.... (tepok jidat, elus dada, dan istigfar berkali-kali)

Pencarian mobil belum berakhir tapi harus kami kesampingkan dulu karena kami sakit kompakan di minggu setelahnya. Cerita beli mobil penuh drama akan lanjut ke part 2!
Ilma Purnomo (Mama Razin)
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Seattle, Amerika Serikat.

Related Posts

Posting Komentar