Ilma Hidayati Purnomo

Resah dan Gelisah (Bagian Satu): Kunjungan Orang Tua

Pernahkah kamu merasakan keresahan dan kegelisahan yang begitu parah hingga saat tidur pun merasa terganggu? Sudah dua minggu terakhir, pikiranku begitu kusut sampai-sampai sepanjang tidur aku dibuat lelah karena beragam mimpi, dihantui mimpi buruk, hingga puncaknya, aku terbangun dalam keadaan menangis!

Inilah Trilogi Resah dan Gelisah 2025: Kunjungan Orang Tua, Mengurus Tiga Visa, dan Menjadi Rapuh di Usia Kepala Tiga. Tulisan ini adalah bentuk penyaluran energi negatif supaya pikiranku tetap waras. Semoga para pembaca tidak ikut terbawa suasana, menjadi tidak waras 😜

Rencana yang Sudah Lama

Sejak bulan November tahun lalu, orang tuaku mengabarkan kalau mereka sedang mengurus visa turis untuk berkunjung ke Amerika. Selang tiga bulan, aku belum mendapat kabar lagi kapan mereka akan merealisasikan rencana berkunjung ke Amerika. Tiba-tiba saja, pertengahan Maret lalu mereka membeli tiket pewasat ke Seattle untuk kedatangan 12 April nanti.

Tentu aku merasa senang atas rencana kunjungan mereka. Sudah 5,5 tahun kami tidak berjumpa secara fisik. Namun, mendadak aku sadar, kalau kehidupanku sekarang sudah jauh berbeda dengan kehidupan saat masih tinggal bersama orang tua. Bagaimana jika nanti, ketika orang tuaku masuk ke kehidupan kami selama tiga minggu, justru timbul banyak konflik?!

Kondisi Rumah yang Kurang Kondusif

Kami masih mengontrak di one-bedroom apartment. Luasnya tidak sampai 60 m2, dihuni empat orang, dan buanyak barang. Kami juga buka tipe orang yang perfeksionis soal kebersihan rumah apalagi sampai mode minimalis seperti influencer instagram di bawah ini.
Fakta menarik: luas apartemen kami juga sekitar 600 sq ft.

Mungkin beberapa fakta berikut ini akan cukup mengejutkan bagi sebagian besar orang Indonesia:
1. Kami tidak punya meja makan. Kami makan di meja yang menghadap ke televisi. Secara bentuk, lebih mirip meja tamu.
2. Cara kami mengeringkan handuk basah: letakkan pada kursi di hadapan heater ruangan. Pasti kering, meskipun tampak tidak estetik.
3. Apa saja yang menurut kami unik, kami pajang. Lava lamp, himalayan salt lamp, ijazah doktoral yang di figura dan ditandatangani profesor, serta lukisan anak pertama kami.
4. Kabel headset sepanjang dua meter mengular di lantai yang terhubung ke televisi. Fungsinya, supaya bisa nonton film "seram" di tv saat malam hari tanpa membangunkan anak-anak yang tidur di ruangan yang terhubung.
Serta banyak hal lainnya yang kami personalisasi sesuai kenyamanan dan selera kami.

Bagaimana dengan orang tuaku? Aku tidak ingin memberi label apa-apa. Cukup aku beberkan fakta-fakta berikut ini:
1. Rumah disapu setiap pagi.
2. Lantai di pel minimal 2x seminggu.
3. Tidak boleh menggunakan meja makan selain untuk kegiatan makan (tidak boleh ada laptop atau hal lainnya).
4. Pakaian bekas pakai langsung masuk keranjang pakaian kotor (meskipun baru sekali pakai).
5. Hanya boleh ada jam dinding yang terpajang.
Intinya, semua hal harus berada pada tempatnya. Semua tempat harus bersih dan rapi.

Kamu bertanya, bagaimana dulu ketika aku tinggal bersama orang tua? Aku sering kena omel karena kamarku selalu menjadi tempat paling berantakan di rumah 😂

Sekarang, aku punya waktu seminggu untuk menyulap apartemenku yang "berantakan" menjadi parent-approved.

Rutinitas yang Tidak Umum

Kami sekeluarga, tidak terkecuali anak kami yang usianya 4,5 tahun, hanya makan dua kali sehari (biasanya pagi dan malam). Kegiatan mandi hanya dilakukan seperlunya (bisa jadi dua hari sekali) mengingat suhu udaranya yang dingin dan mahalnya harga air. Suamiku hampir selalu makan di depan tv sambil menonton YouTube, bareng aku dan anak-anak. Juga bukan hal yang aneh, kalau weekend aku dan suami tidur siang, sedangkan anak-anak main.

Eh, ini masuk rahasia rumah tangga, bukan sih??

Penutup: Membuat Keseimbangan

Setiap rumah pasti punya rule masing-masing. Namun, memuliakan tamu (apalagi orang tua) adalah kewajiban pemilik rumah. Aku harus bisa membuat keseimbangan antara menyiapkan rumah untuk kedatangan orang tua tanpa membuatku terlalu capek membersihkan rumah. Pasalnya, aku juga punya tugas lainnya yang tidak kalah penting dan medesak, yaitu mengurus tiga jenis visa.

Beberapa waktu lalu, aku tiba-tiba saja ingin menelpon Teh Alfi setelah membaca tulisan di blognya. Aku meminta pendapatnya soal bagiamana menyikapi orang tua yang mau datang berkunjung dengan situasi rumah seperti ini. Teh Alfi menyarankan aku untuk memberitahu orang tua sebelum mereka datang, seperti soal jadwal makan kami yang "tidak biasa", dengan tetap menyediakan makan untuk orang tua 3x sehari. 

Setelah menelpon Teh Alfi, aku merasa lebih lega. Ditambah dengan menuliskan keresahan ini di blog, pikiranku jadi lebih tenang. Ternyata, Tantangan Blogging Level Up Mamah Gajah Ngeblog kali ini bisa membantu menstabilkan kondisi mentalku.

Nah, sudah siap membaca Trilogi Resah dan Gelisah 2025 (Bagian Dua)?


Ilma Purnomo (Mama Razin)
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Seattle, Amerika Serikat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar